> Category

Book

Built to Bless

Meutya Hafid wins Australian Journalism Award

JAKARTA (Antara): Metro TV journalist Meutya Hafid has selected as inaugural winner of the Elizabeth O’Neill Journalism Award, the Australian Embassy announced Thursday.

The award, to be conferred each year on one Australian and one Indonesian journalist, is in memory of former Embassy Press Attache Liz O’Neill, who tragically died in service in a plane crash in Yogyakarta in March.


Post DIPOSTING OLEH meutya PADA October 12, 2007 5:11 pm | Comments (29)

Meutya Hafid dan 168 Jam dalam Penyanderaan

Oleh: Suradi, Sinar Harapan

JAKARTA-Penyanderaan selalu berakhir dramatis, apakah penyanderaan itu dengan kekerasan, pembunuhan, atau sebaliknya tanpa kekerasan sedikitpun. Pasalnya, penyandaeraan itu–berapapun lamanya–merupakan tindakan perampasan hak-hak manusia.

Pada intinya penyanderaan merupakan tindakan kekerasan dan pemaksaan. Meski akhirnya sandera dibebaskan, pasti meninggalkan luka yang dalam. Bila sandera tak kuat, berpengaruh pada aspek psikologis luar biasa.


Post DIPOSTING OLEH meutya PADA October 05, 2007 7:11 pm | Comments (21)

Muetya Hafid: Pengalaman Disandera

Wajahnya ceria. Senyumnya pun ditebar kepada setiap tamu yang datang di ruang Prambanan Hotel Sahid, Jumat (28/9) petang lalu. Wajah ceria pembaca berita di salah satu stasiun TV itu sangat berbeda dengan foto Meutya Hafid, yang bersama rekannya, kameramen Budiyanto, sempat disandera di Ramadi, Irak, yang terlihat begitu ketakutan di bawah todongan senjata AK 47 milik Mujahidin Irak. Dan, foto yang ketakutan itu pun dijadikannya sebagai sampul buku hasil karyanya berjudul 168 Jam dalam Sandera.


Post DIPOSTING OLEH meutya PADA October 05, 2007 7:03 pm | Comments (11)

Setelah Baca Buku “168 Jam dalam Sandera”, Dian Sastro Pingin Jadi Wartawan

diansastro.jpg BINTANG film ‘AADC’, Dian Sastro mengungkapkan ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik. Ia memandang bahwa profesi wartawan adalah pekerjaan yang menantang. Ia mengaku siap jika ada yang menawarinya menjadi wartawan.”Orang yang punya dedikasi besar untuk mengungkap sebuah kebenaran dan disampaikan kepada masyarakat, itulah tugas besar seorang jurnalis,” jelasnya saat ditemui di peluncuran buku ‘168 Jam dalam Sandera’, karya Meutya Hafid, di Prambanan Room, Hotel Sahid, Jakarta, Jumat lalu.


Post DIPOSTING OLEH meutya PADA October 01, 2007 11:41 pm | Comments (20)

Alhamdullillah hari ini soft launching buku ‘168 Jam Dalam Sandera’ berjalan lancar

Alhamdullillah hari ini soft launching buku ‘168 Jam Dalam Sandera’ berjalan lancar. Terimakasih atas dukungan semua sahabat. Semoga dalam waktu dekat dapat bertemu secara langsung dalam roadshow roadshow di 5 kota.


Post DIPOSTING OLEH meutya PADA September 28, 2007 7:24 pm | Comments (14)

Dari Iseng Menjadi Profesional

Sumber: WASPADA, 3 Juli 2007

Siapa bilang sesuatu yang berawal dari sekedar iseng nggak bisa nganterin kita ke gerbang kesuksesan? Iseng berarti satu langkah untuk mencoba masuk ke ruang mungkin nggak kita kenal selama ini dan pada akhirnya kita mencintai ruangan tersebut sebagai tempat yang paling kita senangi.

Begitulah awal karir Meutya Hafid, salah seorang news presenter Metro TV yang sempat dijumpai Waspada Kreasi dalam kunjungannya ke Kota Medan.


Post DIPOSTING OLEH meutya PADA September 14, 2007 7:10 pm | Comments (10)

Meutya Hafid Dibelai Allah di Ramallah

Sumber: Republika, Jumat 18 Maret 2005

“Beda antara hidup dan mati sangat tipis. Siapa yang bisa memilih, selain Allah SWT?” Perjalanan jurnalistik reporter Metro TV, Meutya Hafid — bersama kameramen Budyanto — pertengahan Februari lalu ke Irak memberikan pelajaran serta hikmah yang amat besar dalam hidupnya. Peliputan pelaksanaan pemilihan umum kali pertama setelah tumbangnya rezim Saddam Hussein dan peringatan hari Asyura (10 Muharram, red) keduanya, berakhir di sarang Mujahidin. Bersama sopir Ibrahim, mereka disandera kelompok ini selama tujuh hari di sekitar wilayah Ramadi, 150 km dari Baghdad.


Post DIPOSTING OLEH meutya PADA September 14, 2007 7:03 pm | Comments (5)

Selama Disandera Bisa Pesan Ayam Goreng

Meutya Hafid dan Budiyanto kini telah kembali ke tengah keluarga. Meski pengalaman mencekam mereka alami selama delapan hari disandera, mereka mengaku tak kapok meliput ke daerah konflik. Berikut kisah mereka selama disandera. Dituturkan di Tabloid NOVA.


Post DIPOSTING OLEH meutya PADA September 14, 2007 6:04 pm | Comments (8)

Prolog

“Bangun Meut! Bangun!”

Suara Budianto mengagetkanku. Tangannya menghentakkan tas yang kupakai sebagai bantal. Budi mengulangi teriaknya, “Bangun Meut! Bangun!”

Entah apa gerangan yang sedang terjadi. Otakku belum bekerja seratus persen, namun bisa kucerna nada kepanikan dalam lengkingan suara Budi. Setahuku, Budi adalah tipe lelaki Jawa yang halus tutur katanya. Tak pernah ia meninggikan suara kepadaku seperti ini.


Post DIPOSTING OLEH meutya PADA September 14, 2007 5:32 pm | Comments (43)