“Bangun Meut! Bangun!”
Suara Budianto mengagetkanku. Tangannya menghentakkan tas yang kupakai sebagai bantal. Budi mengulangi teriaknya, “Bangun Meut! Bangun!”
Entah apa gerangan yang sedang terjadi. Otakku belum bekerja seratus persen, namun bisa kucerna nada kepanikan dalam lengkingan suara Budi. Setahuku, Budi adalah tipe lelaki Jawa yang halus tutur katanya. Tak pernah ia meninggikan suara kepadaku seperti ini.
Belum sempat aku bertanya, Budi kembali berteriak, “Paspor Meut! Passpor…!” Paspor? Kenapa ada yang meminta paspor, padahal rasanya aku sudah lama tertidur sejak melintas perbatasan. Tapi tanganku refleks merogoh tas mencari paspor.
“Cepat Meut! Cepat!” Lagi-lagi Budi berteriak, kali ini lebih keras. Mungkin karena panik, tanganku sulit sekali menemukan paspor. Kuaduk-aduk isi tas. Mataku yang belum awas benar mencoba melihat sekeliling.
Rupanya kami berada di sebuah pom bensin. Posisi mobil yang kutumpangi seperti tengah mengisi bensin. Mataku menangkap sosok tiga lelaki mengepung mobil kami. Wajah mereka tertutup kain sorban yang biasa disebut kafiyeh. Hanya mata mereka yang terbuka. Aku yakin mereka warga Irak.
Budi duduk di jok depan, badannya membalik ke arahku karena tak sabar menungguku mencari paspor tanpa hasil. Di sebelah Budi, kursi tampak kosong. Kemana Ibrahim? Perhatianku beralih ke suara orang menghardik dalam bahasa Arab. Matanya memelototiku.
“Paspor!!” Hanya itu yang bisa kupahami dari rentetan bahasa Arab yang meluncur dari mulutnya.
Aku semakin bingung, tapi pasti ada yang tidak beres. Bukan hanya satu, tiga lelaki itu kini memaksaku dengan tatapan menusuk dan tidak sabar. Kutemukan pasporku, seorang dari mereka langsung menyambarnya. Pada saat bersamaan Ibrahim berlari entah dari mana. Rautnya panik.
“Sahafi! Sahafi! Muslim! Andonesi!” Setengah berteriak Ibrahim menjelaskan pada tiga lelaki itu bahwa kami wartawan muslim dari Indonesia. Ketiga lelaki itu tak mempedulikan berondongan penjelasan Ibrahim. Malah mereka menimpali dengan rentetan pernyataan yang lebih sengit. Itu membuat Ibrahim semakin pucat. Pasti posisinya tak berdaya.
Pintu mobil dibuka, tubuh Ibrahim yang tinggi besar didorong paksa ke arahku. Lalu seorang lelaki memaksa masuk dari samping Ibrahim, dan melompat ke kursi paling belakang. Tangannya menenteng senjata laras panjang jenis AK. Ia mengarahkan moncong senjatanya padaku sambil berteriak dalam bahasa Arab. Sepertinya ia mengatakan, “Jangan berontak, jangan bergerak!”
Di kursi depan, lelaki lain masuk dari pintu kanan, memepet tubuh Budi. Seorang lagi masuk dari pintu depan kiri, duduk di belakang kemudi. Ia membalik ke arah Ibrahim dan merebut kunci dari tangannya. Kasar dan beringas. Tubuh Budipun didorong ke kursi tengah sehingga posisinya terjepit tubuhku dan Ibrahim. Mesin dihidupkan, mobilpun dilarikan sangat kencang. Sekelebat aku melihat beberapa orang di pom bensin hanya melongo tanpa mampu menolong.
Mobil terus melaju kencang, membuat barang-barang bawaan kami, termasuk perangkat liputan, terguncang. Semuanya terjadi begitu cepat. Aku berharap ini hanya bagian dari mimpi tidurku. Kakiku serasa melayang, tubuhku tak lagi menempel di kursi. Mimpikah? Bukan! Walau perasaanku sulit menerima, tapi otakku yang sudah terjaga terus menerus meyakinkan, “Ini kenyataan, Meut, bukan mimpi!” Akhirnya aku pasrah. “Inilah akhir hidupmu.”
Dalam kepasrahanku, Ibrahim mencoba lagi menjelaskan bahwa kami wartawan muslim dari Indonesia. Namun ketiga orang ini, dengan tubuh terguncang-guncang karena laju mobil tak karuan, tidak kalah sengit menjelaskan dalam bahasa Arab, entah apa. Suasana semakin tegang. Lagi-lagi usaha Ibrahim sia-sia belaka. Ini membuatku tidak mau lagi menghiraukan perdebatan mereka. Percuma. Kalau memang harus mati saat ini, aku mau mati dalam keadaan baik. Tanganku menggapai tas, merogoh buku Yasinan 40 hari kematian ayahku yang hari ini belum genap 1 tahun wafat. Mungkin hari ini aku akan menyusulmu, Ayah.
Tiba-tiba Ibrahim berteriak, “Quran! Quran..!” Telunjuknya mengarah ke buku Yasin. Lelaki di belakangku menodongkan senjata AK ke tubuhku. Ia menyangka aku merogoh tas untuk mengambil pistol atau senjata pembela diri. Nyaliku semakin ciut.
Aku sadar betul dalam situasi ini tak ada yang bisa kulakukan, kecuali berdoa. Tak kupedulikan lagi mereka yang terus menatapku. Kubuka buku dan membaca surat Yasin dalam hati. Tak kusangka, keacuhanku rupanya membuat mereka melunak. Lelaki di jok depan berbicara padaku dengan suara yang lebih halus. Ibrahim menerjemahkan, “Kami bukan pencuri. Kami muslim. Kami tidak akan melukaimu.” Benarkah? Seolah memahami raut kesangsianku, Ibrahim menambahkan, “Mereka adalah Mujahidin.” Mujahidin? Apa urusannya dengan kami?
Kuberanikan menatap lelaki yang tadi berbicara padaku. Matanya kini lebih bersahabat. Dari balik lilitan kafiyeh-nya yang melorot, sepertinya aku melihat senyuman tertahan di bibirnya. Ia menganggukkan kepala seolah membenarkan Ibrahim. Entah kenapa aku menjadi yakin kembali. Mungkin Tuhan masih memberi kesempatan aku hidup.
Mataku menoleh keluar, ketika iring-iringan tentara Amerika Serikat berpapasan dengan mobil kami. Iring-iringan yang sangat panjang. Puluhan tank, jeep humvee, kendaraan anti tank, dipenuhi tentara. Ketiga penangkap kami tak menyangka bakal berpapasan dengan rombongan besar tentara Amerika. Raut mereka menegang. Terdengar kokangan senjata AK di belakangku. Ya Tuhan, kami akan diberondong puluhan tentara Amerika jika tiga lelaki ini nekad. Tiba-tiba sang sopir membanting stir ke sebelah kanan, membuat posisi mobil terlempar dari ruas jalan. Untunglah tak membuat rombongan tentara curiga. Di depan dan belakang mobil kami memang banyak kendaraan lain yang juga memberi iring-iringan serdadu itu berlalu.
Setelah iring-iringan serdadu lewat, ketiga penangkap kami berdiskusi setengah berbisik. Sesaat kemudian mereka menutup mata Ibrahim dengan kafiyeh. Punggung Ibrahim didorong sehingga posisi tubuhnya membungkuk. Lalu giliran mata Budianto dililit. Ia juga dipaksa merunduk. Mungkin mereka khawatir kami akan berteriak meminta tolong saban berpapasan dengan kendaraan lain.
Aku memandang ke arah lelaki di jok depan. Matanya seperti meyakinkan bahwa mereka tak akan mencelakaiku. Kulirik jam tangan, pukul 4 sore waktu Indonesia barat. Jam 12 siang waktu Irak. Tiba-tiba mataku pun ditutup. Lelaki bersenjata di belakangku melilitkan kafiyeh. Kencang sekali, membuatku sulit bernapas. Tangannya menekan punggungku, membuat tubuhku merunduk. Hanya deru mesin mobil yang kini kudengar, bersahutan dengan suara jantungku yang semakin kencang berdegup.
Inikah perjalanan menuju kematian? Dunia pun gelap.

September 14th, 2007 at 6:43 pm
Selamat ya Meutya.
Akhirnya buku pertamamu diluncurkan juga
September 16th, 2007 at 2:59 pm
Ok, tak beli deh kalo lagi mampir ke Gramedia, ya Mbak Mut2!
September 16th, 2007 at 4:08 pm
Bagi sebagian orang tionghoa,bila saya tidak salah menterjemahkan angka 168 berarti “sepanjang jalan sukses”
Semoga Meutya Hafid bisa sukses di segala bidang.
September 17th, 2007 at 7:17 am
pengalaman yang gak akan dilupakan mbak mumut seumur hidupnya…
ntar beli bukunya ah…
September 17th, 2007 at 9:09 am
akhirnya bukunya siap diluncurkan juga, setelah sekian lama kunanti.
Apakah “janji” undangan Launchingnya akan ditepati?
Yang penting sekarang kuucapkan Selamat dulu, semoga selalu sukses di semua bidang.
Selamat menunaikan ibadah puasa,
Wassalam.
September 17th, 2007 at 9:43 am
Wow, wajib beli nih bukunya…
September 18th, 2007 at 11:40 am
Setelah memiliki Videonya dengan susah payah,
kini Sepertinya Saya wajib memiliki bukunya: “168 Jam Menjadi Sandera”.
September 18th, 2007 at 11:47 am
Ini dia yang kutunggu sejak lama sekali… Buku 168 Jam Menjadi Sandera…
Ngomong2, untuk dapetin buku itu bisa dengan cara barter kan sama buku yang ane sudah kasih ke You…
kirim via Post… Alamat ane you sudah tahu kan.. hahahahaa…
Selamat Deh Meutya….
September 18th, 2007 at 12:32 pm
Selamat yah.. atas beredarnya buku itu. Nanti bakal gwa beli deh.. Mba Meutya. Bukunya Mahal gak!!!!
September 18th, 2007 at 5:12 pm
klo aq mau dapet video ma bukunya boleh ga??
biar lengkap kayak Wawan Yuli
dah punya artikel, tinggal video ma buku yang menyusul
he…he..
tinggal tunggu launching dan beli deh bukunya
pasti
have a nice day, met puasa juga ya
^-^
c u
September 18th, 2007 at 5:25 pm
beliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
September 18th, 2007 at 8:48 pm
bukunya mut2. must be in my book list. menginat cita2 bwt jd wartawan perang gak kesampaian. haha…
September 19th, 2007 at 7:52 pm
Semuanya…terimakasih banyak dukungan dan supportnya..\mudah2an bukunya banyak yang baca. \karena bikinnya juga penuh perjuangan
Love,
Meutya
September 20th, 2007 at 8:00 pm
Wah,
ini nich buku yang amat bagus sekali
oke aku akan membelinya
September 21st, 2007 at 9:09 am
Selamat ya mbak meutya, Bukunya sudah beredar di gramedia solo belum? wajib beli nih soalnya cita-cita ingin jadi wartawan gagal gara-gara kurang baik bahasa inggrisnya. sukses selalu ya.
September 21st, 2007 at 9:20 am
meutya…kapan ya bukunya diluncurkan ? tepatnya kapan buku tsb sudah ada di toko buku,thanks
note : teman2 sudah ga sabar utk membacanya tuh…
September 21st, 2007 at 9:39 am
tambah saran ya mbak meutya.biodata pribadinya jangan yang dari metrotv dong. pakai bahasa indonesia saja.biar dari blog ini kami para penggemarmu bisa baca.
September 21st, 2007 at 5:21 pm
Hai Mba M.Viada Hafid ternyata janjimu di KBRI Yordania ditepati juga yaw… itu loh… Mba kan mau menceritakan secara detail apa yang terjadi dengan Mba dan Mas Budi Dalam Peristiwa Februari 2005… Ya… buku tersebut : “168 Jam Menjadi Sandera” nampaknya cukup mewakili Kronologis Peristiwa tsb… Terimakasih sudah susah payah menerbitkan buku itu.. untuk itu Selamat Ya Mba M.Viada Hafid..
Love,
Fans_nya Bing - Bing
September 21st, 2007 at 5:23 pm
Ketinggalan….
Makasih juga Mba sudah mengirim fotonya Mba + Tandatangannya… Suatu Kehormatan bagi Saya…
September 21st, 2007 at 5:25 pm
Kelupaan
Saya Mohon Jangan Marah atas apa yang sudah saya kirim ke Mba Via Post yaa!!!! sebentar lagi lebaran…
September 23rd, 2007 at 10:56 am
wa.. aq jga mau donk foto ma tanda tangannya Mba Meutya
hiks…hiks.. jadi sedih
btw Mba Meutya bukunya terbit khan di Malang??
klo misalnya launching jgn lupa ke Malang ya Mba.. he…he… aq pasti dateng asal ga pasa lg skul he…
^-^
September 23rd, 2007 at 6:01 pm
Teman teman selamat berbuka puasa…
InsyaAllah bukunya mulai didistribusikan hari Jumat depan, sabar ya…Di pulau Jawa mungkin hari Jumat sudah ada, tapi teman teman dari luar jawan mungkin minggu berikutnya baru bisa beli di toko buku.
Trims,
Meutya Hafid
September 24th, 2007 at 11:43 am
alhamdulillah bukunya dah jadi ya?tapi aq blm ke toko buku nih.lg sibuk skripsi.kira2 di Malang dah ada belom mbak?sukses ya..selamat menunaikan ibadah puasa juga yah
September 24th, 2007 at 4:27 pm
bukunya mbak mumut jadi inget buku yang baru saya beli…seorang wartawati Inggris yang disandera taliban..Yvonne Ridley….mungkin nyaris mirip ama kisah mbak mumut…
September 25th, 2007 at 2:52 am
wah kalau ada acara launching buku ini di semarang kabar-kabarnya ya….coz pengin banget ketemu mbak muti.insyaallah beli bukunya kalau mampir ke gramed.
selamat shiyam…
September 25th, 2007 at 2:53 am
wah kalau ada acara launching buku ini di semarang kabar-kabarnya ya….coz pengin banget ketemu mbak muti.insyaallah beli bukunya kalau mampir ke gramed.
September 27th, 2007 at 4:33 pm
ok dech..mulai jumat bsk ak bakal mampir ke gramed mudah2an ja da ada ya mba’..sukses terus bt mba’ meutya..ok??
September 28th, 2007 at 4:41 pm
Congratz…. buat peluncuran bukunya hari ini.
Salam en sukses selalu…. ya, Mbak ^-^
September 29th, 2007 at 11:54 am
Selamat mba Meutya Hafid atas peluncuran bukunya. btw kapan nih sampe di Gramedia Sumatera (Lampung). Saya pengen bgt memilikinya.
Thanks!
September 29th, 2007 at 2:14 pm
Ceritanya oke banget, pasti menegangkan plus mengharukan! Nggak semua orang bisa nulis buku berdasarkan pengalaman yang begitu dahsyat. Sukses buat mba’ Meut.
September 30th, 2007 at 4:30 pm
Mut …. kami semua sayang kamu
October 1st, 2007 at 9:50 pm
Muetya…gmn masih punya nyali untuk liputan daerah konflik???…setelah wartawan jepang tewas di Burma?
October 8th, 2007 at 2:32 pm
Selamat mbak…, sebuah buku yang menjadi tanda perjalanan, aku pernah bercita-cita jadi seorang jurnalis lalu patah semangat kini tumbuh lagi, sukses mbak…..
October 8th, 2007 at 4:58 pm
Mba’ meutya.. Launching bukuna ke semarang juga dunkz…
Pliz….
October 11th, 2007 at 12:27 pm
Alhamdulillah, akhirnya bisa juga beli bukunya Mbak Mut2.
Bagus koq mbak, ampe saya sendiri hampir nangis (udah mbrebes mili).
Banyak hal yang bisa saya pelajari, juga bukunya Mbak Mut membuka perspektif baru bagi saya (Biarpun mungkin gara2 bukunya Mbak Mut2 terbit, novel bikinan saya nanti bisa gagal terbit…Hahahaha…tp gpp, lah!)
Saya rekomendasikan buat semua anggota The Brethren Court untuk memiliki buku ini, atau setidaknya pernah baca lah…(Beli donk! Cuman Rp. 44 ribu juga!!)
Sukses selalu ya, Mbak!
October 27th, 2007 at 5:55 pm
aku udahh bacaa.. kerenn..
banyak pesan moral yang bisa aku ambil dari buku itu..
November 21st, 2007 at 7:21 am
sampe skrg belom beli bukunya, 44ribu masih masih lumayan tidak murah utk ukuran kantong saya yg pas2an :D. nunggu e-book gratisannya aja heheeee.
oh iya commentnya lengkapi code dong mbak. biar gak dibanjiri spammer lagi.
December 4th, 2007 at 10:51 am
bagoess.. bagoes…
aku jg ikut bahagia atas peluncuran buku perdananya..:)
walaupun blom dpt n masuk di daerah..
tapi aku bahagia uda baca ceritanya…
sukses ya mut..:)
March 4th, 2008 at 12:41 pm
mbak muti, aq juga sangat ngefans ma mbak, mudah - mudahan makin sukses aj, pengalaman di sandra nya amat mengharukan. salam kenal dari ku, sebetul nya aku pingin tau mbak lebih banyak lagi, salam dari fans mbak
July 24th, 2008 at 12:03 pm
[…] demikian Najwa bukan tanpa kekurangan. Waktu itu Meutya Hafidz masih disandra oleh kaum Mujahidin di Irak. MetroTV secara marathon memberitakan perkembangan terakhir dan disampaikan bergiliran oleh […]
September 10th, 2008 at 5:11 pm
Selamat atas launching bukunya
Bukunya sudah dibaca…
Top Abiss….
Sukses selalu…
God Bless U
October 6th, 2008 at 10:30 am
mau tanya koq isinya web ini hanya sedikit tentang meutya dan bukunya saja. Padahal saya ingin sekali tau lebih banyak tentang keseharian meutya bersama sahabat, rekan kerja, keluarga. dan tentunya yang pada nefans ama meutya. SUKSES SELALU!!!!!!!!!!!!!!!!
October 8th, 2008 at 8:17 am
Mbak, bukunya baguuuuus banget. Oh ya, semoga sukses ya jadi CALEG…